Tampilkan postingan dengan label Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Story. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 Agustus 2012

Salah 1 Sifat Buruk Cewek/Wanita

Salah satu sifat buruk cewek/wanita...
Cewek/wanita? Iya, bisa cewek, bisa wanita. Cewek/wanita memang sama-sama satu gender. Yang membedakan ialah sifat, pola pikir mereka, tingkah dan laku diantara keduanya. Oke, kurang paham maksudnya? Klik disini.

   Sekali lagi cewek/wanita sama halnya dengan cowok/pria, kedua gender ini pasti mempunyai banyak sifat buruk, entah yang permanen, semi permanen, ataupun moody.
    Karena takdir yang digariskan penulis terlahir sebagai perempuan tulen dan sampai saat ini masih belum nampak tanda-tanda transgender, maka kali ini akan membahas tentang cewek/wanita yang emm memang dikutip dari pengalaman pribadi *ups!

Nah! Dari sekian banyak sifat buruk cewek/wanita, ada satu yang dominan. Dominan? Mungkin lebih tepat 'yang sering dijumpai dalam tabir perasmaraan' #okeiniabsurd

Cewek/wanita itu "Selalu memancing ingin dibohongi tetapi..."

Ingin dibohongi, tetapi akan sangat marah apalagi jika do'i/gebetan/kekasihnya ketahuan berbohong. Kok bisa? ...sangat bisa! Misalnya saja dengan sebuah pertanyaan yang mungkin bagi kaum Adam masuk kategori pertanyaan berat, menyangkut dunia akherat jika berbohong, dan menyangkut nasib akan menjadi jomblo lapuk jika berkata apa adanya. "Aku gemuk nggak sih?", pertanyaan ini bisa membuat Si Cowok tahan napas sepersekian detik. "Aku gemuk nggak sih?", pertanyaan yang sama untuk kedua kalinya berhasil mengkembang kempiskan hidung Si Cowok. 

Sebenarnya di relung yang terdalam setiap pasangan tentu ingin membahagiakan dia-yang-tersayang. "Nggak kok kamu tetep yang tercantik..." yaaa pantas saja, cewek mana yang pipinya tidak langsung semerah tomat begitu do'i/gebetan/kekasihnya berkata demikian. Tetapi, sebenarnya kalian perlu bersyukur jika bertemu pasangan yang akan mengatakan mentah-mentah "Iya kamu gemuk, solusi terbaiknya ya kamu harus olahraga! Aku akan menemanimu..."

Jadi? Lebih telak mana yang mengena di hati? :)

Jumat, 06 Juli 2012

Proses Menuju Kedewasaan

Sebelum kalian terjun terlalu dalam ada baiknya review diri masing-masing untuk flashback ke 3-4 tahun lalu. Untuk apa? Setidaknya untuk tidak men-judge secara mentah-mentah karena saya sebagai orang pertama pelaku utama, yang mungkin setelah kalian pahami postingan ini saya dinobatkan sebagai '(mantan) anak alay'. Oke! Gamblangnya begini, menurut Raditya Dika's quote alay itu proses menuju kedewasaan. Jadi? Setiap orang yang berpredikat 'dewasa' pernah alay? Bisa iya bisa tidak. Kedewasaan seseorang tidak hanya dijamin dari perolehan piagam kelulusan masa alay. Seseorang yang pernah mengalami (h)earthquake berarti dia telah dewasa. Akan tetapi, di lain kasus, kedewasaan acap kali diiringi perkembangan aliran alaynisme dalam sanubari seseorang. Entah karena nyaman dengan mantel predikat alaynismenya, atau karena atmosfer lingkungan yang mau tidak mau memaksa seseorang untuk tetap melestarikan kebudayaan alaynya ke cucu cicitnya. Ironi.

Sip. Sebelum paragraf sambutan di atas mengaret terlalu jauh, kita bertemu di titik.

3-4 tahun lalu tepatnya saya terlihat masih muda dari 3-4 tahun setelahnya (?) Seragam putih biru yang cenderung warna 'peach' (re; buthek) karena termakan usia untuk atasannya, dan biru donker dengan ledakan sinar matahari ditiap lipatan rok. Dilengkapi dengan embel-embel seragam yang rusak pesonanya oleh bayclin. Perpaduan warna yang menjadi saksi bisu masa peralihan saat itu. 

Seragam kebanggaan yang dipakai Senin-Sabtu, dari 07.00 dan tidak jarang sampai 10 jam setelahnya, 17.00. Tenggang waktu yang cukup lama untuk ukuran efektif jam belajar di sekolah? Lama? Ah sebentar~ Selebihnya menghabiskan waktu dengan rekan-rekan senasib sepenanggungan. Termasuk, menghabiskan/melewati masa peralihan (alay) dengan mereka, orang-orang yang bernasib naas karena bertemu spesies macam saya.

SMP, kelas 8 = masa kemerdekaan. Tanpa buku, dengan main, tanpa buku, dengan main, penghapusan jam belajar, catatan serba foto kopi, hutang (masalah perut) dimana-mana, termasuk masalah hati #abaikan. Masa-masa yang ...

Penuh kelabilan.

Labil ketika harus menentukan pembagian basgor Rp 1000,00 untuk 9 porsi. Menuju ke sudut gang, tempat dimana saya dan mereka menikmati masa kemerdekaan, tempat bertegur sapa, tempat pelarian saat jam pelajaran tambahan. Kita sebut basecamp. Realitanya tidak seelite namanya, cukup dengan sebuah gardu dan rumah. Jelasnya berada di sebuah pertigaan, cukup strategis  sebagai jalur lalu lintas pedagang basgor ditambah dengan keberadaan kolam lele di beranda rumah *anggap saja ada hubungannya*.   Benar-benar sikon yang tepat untuk menghabiskan waktu berkualitas. Perlu bukti? Konsentrasikan saja pada gambar di bawah ini. Cukup! Ini 3-4 tahun yang lalu dengan segala ... kealayan yang mmm? cukup mencolok mata. Basah kuyup sampai menganggap bahwa kita (saya dan mereka) adalah sangat keren. Sebenarnya masih banyak gambar eksklusif lainnya, akan tetapi atas dasar perlindungan nama baik dan pencegahan penurunan reputasi di masa mendatang, bukti otentik sengaja saya hidden dari khalayak umum.


Tingginya kreativitas atau mungkin karena faktor turunan gen dari leluhur mereka, alhasil munculah berbagai tindakan di luar penalaran, sedikit autis, tapi benar-benar kreasi berkelas. Sepulang sekolah, entah karena niat atau adanya kesempatan, kewaspadaan sangat diperlukan bagi mereka (teman-teman saya) yang menitipkan sepeda ontel di kawasan basecamp. Lengah sedikit saja, dan tidak tiba tepat waktu di gardu, diantara mereka harus rela mendapati sepeda ontelnya menjadi wujud seperti gambar di bawah ini. Naas~


Dari kejauhan sekilas tampak seperti sepeda yang diperuntukkan bagi pasukan ontel berani mati. Berbagai ornamen menarik menghiasi sisi demi sisinya. Mulai dari superhelm, mangga harum manis, perkakas rumah tangga, dan tentunya sebuah spanduk demam berdarah. 


Kreativitas ini baru pertama kali dipublikasi. Semoga untuk ke depannya muncul sebuah terobosan baru yang berawal dari hal kecil semacam ini. Namun, belum ada bayangan 2 kendaraan hasil modivikasi ini dipergunakan sebagai mana mestinya, mengendari sambil mengibarkan bendera mengitari pelosok desa. Akan memorable tentunya :')

Belum cukup itu saja, jika diamati di setiap keterangan di sebelah kanan gambar ... Yap! Tidak perlu saya jelaskan panjang dan lebarnya, kalian bisa menemukan bukti otentik lainnya dari bahasa di tiap rangkaian katanya.

Jadi, istilah 'haish alay teriak alay' perlu dipikirkan matang-matang dalam setiap penggunaannya, karena sadar maupun tidak, (mungkin) kita pernah terjerumus ke lubang alaynisme, semacam aliran kebudayaan dari planet tetangga. Asal masih dalam batasan normal dan tidak mengganggu dalam bersosialisasi, itu masih menjadi hak mereka-mereka dalam berprinsip, bertaubat atau akan meneruskan ke generasi berikutnya ^^V

*nb: InsyaAlloh diketik dalam keadaan proses taubat*

Selasa, 03 Juli 2012

Pick-Up Pelajar

*Sebuah cerpen 8 halaman A4 dengan durasi pembuatan kurang dari 1 malam karena sebuah alasan, nilai. Ketikan tata bahasa dan kandunganpun alhasil, kapal pecah. 28 April 2011.*


Aku nggak berangkat.
Hehe.
Akhirnya apa, nggak pulang?

3 kalimat singkat dan tidak berbobot aku balas dengan ketikan sms super cepat dari jari-jemariku.

Ih lah lucune haha balik ke rumah lagi dong?
Tapi jangan mengejek ya, aku mau cerita.

Itu contoh perbincanganku di sms dengan keturunan Adam yang ku kenal 1 tahun lalu. Namanya Ano, bukan nama sebenarnya, dan sengaja aku samarkan karena aku tidak ingin ada pihak ketiga yang tahu, cukup aku dan dia.
28 April 2011, aku menceritakan sebuah pengalaman konyol padanya. Entah karena aku mempunyai rasa percaya diri yang tinggi atau memang sebuah realita, aku merasa dia terhibur karenaku. Hal ini terbukti dengan adanya kata ‘hahaha’ pada sms yang dia kirim.

***

“MasyaAlloh, aku kesiangan.”
Jarum di jam weker bututku hampir membentuk sudut 180°, dan itu artinya tidak lama lagi pukul 06.00 WIB. Aku heran, tidak henti-hentinya aku selalu memberikan kasih sayang ke jam itu, bahkan kasih sayang yang aku berikan lebih banyak dari yang ku berikan pada mantan-mantanku, namun tidak henti-hentinya pula jam itu selalu bersikap acuh tak acuh. Karena sikapnya yang acuh, aku sering maraton ke sekolah, sering mendapatkan marabahaya, dan pastinya semua itu gara-gara jam bututku sayang. Untuk ke sekian kalinya aku telat, dan untuk ke sekian kalinya pula aku memaafkan kinerja jam bututku yang semakin lama menurun dan jauh dari peningkatan etos kerja.
“Oke, kali ini aku memaafkanmu sayang, itu karena hari ini hari spesialku, aku akan kencan selama kurang lebih 1 jam dengan fisika.”
Segera aku kerahkan jiwa dan ragaku untuk bangun karena memang separuh jiwaku masih bereuphoria dengan alam bawah sadar. Aku berjalan loyo menghampiri sebuah benda hijau yang tidak lain adalah kipas anginku yang bunyinya mirip alat pemotong padi, ‘klek’ begitulah bunyinya saat ku matikan. Walaupun begitu realitanya, kipas angin itu tetap ku sayangi sepenuh hati. 2 langkah menjauh dari kipas, aku dikagetkan oleh suatu hal. Mulutku menganga penuh makna melihat hal itu. Sesosok wanita yang masih tergolong anak baru gede berdiri dengan loyo di depanku. Aku bisa melihatnya jelas dengan kedua mataku yang sebenarnya agak rabun ini. Aku kaget. 3 langkah ke depan mendekati tubuh itu. Aku pun mulai merasakan gejolak seiring jantungku memompa darah lebih cepat dari biasanya. Merinding. Sesosok itu berpenampilan lusuh, dengan mahkota seperti rambut singa dan bahkan lebih parah nampaknya. Wajahnya relative jika dihitung dengan nilai cukup mendapatkan nilai 75. Sejenak aku termenung, mencoba mendekat, terus mendekat. Sampai akhirnya aku mencapai klimaks keteganganku.
“Astaghfirullohaladzim.”
Ternyata itu pantulan potret diriku dari kaca. Hahaha, memang jika dilihat-lihat, keadaanku saat bangun dari alam bawah sadar seperti gelandangan 3 bulan dengan tampang penuh keibaan.
Langsung saja aku menuju sumber air untuk sekedar membuat wajahku ini lebih fresh dari sebelumnya. Aku mandi. Kali ini aku mandi secepat kilat dan mungkin berhasil memecahkan rekor waktu tercepat untuk membersihkan diri kategori pelajar.
Bisa dibilang kegiatan maratonku kali ini tidak kalah dengan atlet maraton kawakan. Aku mengambil langkah seribu berjalan keluar kamar dan rumah.
“Aku berangkat, Bu ! Assalamu’alaikum !”
 “Wa’alailkumsalam.”
Ibuku menjawab dengan ekspresi dan suara datar, mungkin heran dengan tingkahku kali ini yang seperti orang yang sedang dikejar lintah darat.
“Eh, maaf lik !”
Tiwi dan Dinda menatapku dengan raut wajah yang tidak jauh datar dari tatapan ibuku tadi. Tanpa menanyakan seribu alasan, mereka mengerti keadaanku, karena sudah pasti jika aku datang dengan wajah tanpa dosa, itu karena dikejar-kejar durasi.
Tidak lama kemudian kami naik kereta kencana, angkot. Aku, Tiwi, dan Dinda selalu duduk di seat favorit kami masing-masing. Kali ini kami bertiga bernasib naas, angkot yang kami tumpangi jauh dari executive class, tanpa musik dangdut remix, dan dengan fasilitas jok yang mirip bangku di warteg pinggiran. Mencoba bersabar, karena kami yakin Alloh mempunyai banyak mutiara rencana dibalik kesialan pagi ini. Itu belum seberapa dengan kasus-kasus konyol yang sering kami alami. Mulai dari kasus ambrolnya knalpot angkot, diturunkan di tengah perjalanan, bahkan sering kali terjadi duel maha dahsyat antar angkot yang berjuang mempertahankan kekuasaannya masing-masing.
            Awalnya, kami masih bisa duduk manis menikmati angkot super ini, super hancur. 1 menit, 2 menit, 3 menit, dan menit-menit selanjutnya kami merasakan adanya kejanggalan.
“Sstt, denger nggak ?”
Aku melirik ke arah Dinda yang nampaknya sedang dilanda kantuk tingkat dewa.
“Hmmm, bunyinya kaya di Hok Tek Bio ya ?”
Sebuah klenteng di Gombong yang pernah aku lewati bersama Dinda.
Tanpa menjelaskan seribu kata, Tiwi yang saat itu masih dalam keadaan terjaga mengerti makna dari pembicaraanku dengan Dinda. Terdengar samar samar alunan musik beretnis kecinaan. Rupanya salah seorang penumpang yang duduk berdampingan dengan driver nampak menebarkan senyum kuda liar sambil menikmati lagu. Bagaimana mungkin dengan percaya diri orang tersebut mendengarkan alunan musik dan berdendang dengan volume maksimal tanpa menghiraukan sekelilingnya yang saat itu semua mata penumpang tertuju padanya. Acap kali, beberapa penumpang lain tersenyum kecil malu-malu saat melihat tingkah bodoh penumpang itu. Tanpa disadari penumpang itu bergoyang seirama dengan irama musik etnis cina tersebut, memutar kepala mengangguk-angguk dan tersenyum kuda liar. Hahaha, rasanya ingin melampiaskan hasrat tawa yang sudah mencapai puncak ubun-ubun ini.
16 km lebih kami lalui dengan suasana penuh kejanggalan. Pastinya sambil menyembunyikan tawa dalam benak. Aku yakin penumpang selain kami juga merasakan hal tersebut. Alhasil pagi ini menjadi sajian penghibur luka lara pasca mendalami ilmu fisika.

***

‘Drrt Drrrt Drrt’ 1 new message from Ano.

Ini kayanya sms terpanjangmu deh selama kita kenal.
Hahaha. Terus terus?

            Aku tersenyum membaca 1 pesan darinya. Sesuai dengan fungsi sms, short message service yang dia kirim selalu dan selalu singkat. Aku pun begitu padanya, tanpa berpikir yang muluk-muluk ku balas sms sekenanya.

Haha ya gitu deh.
Abis itu ya uts lah.

***

Penjaskes, aku hanya tersenyum sinis memandang soal. Nampaknya dewi Fortuna berpihak padaku. Cukup dengan durasi 30 menit lebih sekian detik semua soal berhasil ku matikan. Rasa percaya diri meyelimuti kalbu. Sesekali aku melihat teman yang nampak berpusing-pusing mengerjakan, dan dengan bangga kali ini aku bisa tersenyum penuh kemenangan. Karena itu pula, selama kurang dari 1 jam aku mengerjakan soal dengan santai dan tidak hiperaktif seperti biasanya. 45 menit berlalu dengan penjaskes.
Mungkin karena terlalu gembira atau terlalu percaya diri nasib naas saya rasakan. Fisika ! Aku menyiapkan semua armada untuk melawan keganasan dari fisika nanti.
Duduk. Bruuuuuug. Lembar soal dibagikan. Halaman 1, menarik nafas dalam-dalam sambil kontraksi perut. Halaman 2, menghela nafas dalam-dalam. Halaman 3, yang pasti aku tidak sampai mengeluarkan nafas dan ampasnya melalui belakang. Halaman terakhir, sambil membuka, nyaris serentak jantung rontok, badan tergelepar-gelepar sambil kejang nampak orang ayan yang sedang kambuh stadium 4. Innanilahi. Ini soal kelas kakap.
“Sedangkan bagaimana dengan aku yang kelas teri ?”
Hanya terdiam meleleh dan menciut menghadapinya. Serasa dunia akan memangsaku. Aku memang diharuskan banyak bertawakal, perbanyak dzikir, dan tahlil saat menghadapi fisika ini. Bayangkan saja, semua soal nyaris jauh dari pemikiran akal sehat. Hanya orang kelas kakap yang sanggup menaklukannya. Aku mati kutu. Mencoba berdiam diri dan berdo’a itu tidak mungkin aku lakukan.
“Ya Alloh Ya Tuhanku, tolonglah beri hamba-Mu ini pencerahan ?”
Sambil mengeluarkan suara kecil, aku berdo’a memohon agar mendapat mukjizat dari-Nya. Mungkin tiba-tiba muncul jawaban yang paling bersinar yang nantinya akan ku pilih. Aku selalu berharap hal itu. Kali ini aku hiperaktif, bukan karena ingin merepek jawaban teman, tapi aku hanya memastikan situasi dan kondisi teman-temanku. Hahaha, ternyata benar saja, sebagian dari temanku mencoba berfantasi ke alam bawah sadar. Mungkin mereka mual menghadapi soal macam fisika ini dan terpaksa memilih memejamkan mata sejenak. Aku pun sempat tertawa kecil melihat temanku yang tidur dengan memasang wajah tanpa dosa.
Tidak mau berlama-lama berkutat dengan soal yang menyebabkan efek samping, aku keluar ruangan. Aku jatuhkan tubuhku. Melirik kembali soal fisika tadi tapi rasanya tubuh ini semakin tak berdaya setiap ku jatuhkan lirikan demi lirikan ke lembar soal. AKU DIMATIKAN SOAL!.
“Sial ! Soal apaan itu, romawi 2 aku nggak ada yang bisa ngerjain.”
Dengan lantangnya Tiwi menyuarakan isi hatinya.
“Aku malah nggak berani liat soal, takut.”
Sambung Dinda dengan polos.
Sementara Ninda, Nimas, dan Fitri memilih diam. Mungkin mereka sudah terlalu muak dengan hari ini. Mungkin juga mereka enggan menyuarakan isi hatinya dan sumpah serapahnya. Tapi, yang jelas, Aku, Tiwi, Dinda, Ninda, Nimas, dan Fitri pasrah.
Dari kejauhan nampak seorang gadis berlari-lari kecil menghampiri kami.
“Gimana, bisa?”
Serentak kami menanyakan hal yang sama.
“Enggak dong, hahaha.”
Ternyata Ela yang kami kira membawa kabar gembira lebih parah dari kami. Payahh !

***

Kalo aku udah alergi banget sama fisika.

            Lagi-lagi dia membalas dengan singkat, sangat singkat karena hanya 33 karakter.

***

            Aku, Tiwi, Dinda, Ela, Ninda, Nimas, dan Fitri, sekelompok pelajar pantang menyerah melawan arus keganasan dunia pendidikan. 13.00-17.45 WIB, waktu yang cukup lama hingga membuat pantat kami tepos karena duduk. Selama itu pula kami dicekoki dengan soal-soal kimia, maklum besok pertempuran akan dimulai kembali dimulai. Entah anugerah entah musibah hari ini terasa hari paling jahanam sedunia, bagiku khususnya. Untungnya di tempat les tersedia banyak pacitan, cukup lumayan untuk memanjakan cacing yang telah lama berdendang.
Kami berharap ini akan menjadi perjuangan yang manis. Mati listrik pun bukan suatu halangan bagi kami untuk tetap fokus kali ini. Jika diizinkan memilih, aku lebih memilih mengerjakan 200 soal penjaskes daripada 40 soal kimia yang tidak kalah sulit dengan fisika. Apapun, itu adalah resiko, resiko bagiku bersekolah di SMANSA, sekolah yang sebelumnya tidak pernah aku pikirkan untuk masuk kedalamnya.
Sepulang les, kami berlima, Aku, Tiwi, Dinda, Ninda, dan Ela duduk di perempatan jalan, kebetulan Fitri dan Nimas pulang lebih awal dari kami. Mirip gembel yang sedang mencari dermawan berbaik hati mengantarkan pulang ke istana masing-masing. Maklum saja kereta kencana yang kami tunggu dan berharap mendapat executive class tak kunjung datang. Matahari sudah enggan menyinari langkah kita, dan tibalah waktu maghrib. Serangan lapar tiada kentara macam korban penjajahan sedang meradang. Sementara itu belum ada kepastian siapa yang menjemput kami dan kami akan pulang atau menggelandang di sini.

***

Mau kopi nggak ?

            Mungkin suatu saat nanti dia akan dinobatkan sebagai kopilovers sejati, maklum, hari-harinya selalu ditemani kopi. Hingga aku sempat menjulukinya sebagai bandar kopi.
            Sampai selarut ini dia masih aktif membalas pesan dariku.

Terus akhirnya pulang gak tuh ?

***

Alloh memberikan kebahagian dari berbagai cobaan yang kami terima. Alhamdulilah. Kami mendapat sebuah kabar kegembiraan. Luapan ekspresi riang gembira mengalahkan rasa lapar. Muka kami penuh harapan, terutama Dinda yang sudah sangat ingin tepar, berharap akan naik kendaraan dan kami akan berleyeh-leyeh di dalamnya.
Sempat terpikir akan berjalan kaki Kebumen-Gombong, tapi itu mustahil, alhasil seluruh persendian dan tulang-tulang pasti akan copot dari engselnya. Taraaaaaaaaaaaa ! Entah musibah atau anugerah yang penting kami berlima dapat pulang dan menginjakan kaki di istana masing-masing. Dari kejauhan sorotan lampu mobil yang terang memecah kegelapan malam saat itu di depan SPENZA, transportasi yang nantinya akan menjadi singgasana kami untuk sejenak merilekskan pantat yang tepos tiba. Sebuah pick-up ! Aku ulang sekali lagi, PICK-UP !
“Gila, ini serius kita bakal naik ini ?, naik dimana coba ?”
Tiwi yang kelihatannya paling shock melihat realita yang ada.
Kami berdebat, kaget, malu, dan masih tidak percaya. Ironis sekali jika pada akhirnya kami terpaksa pulang dengan menahan malu karena ulah pick-up ini.
Uwislah, uwis, pada arep bali ora ?”
Aku sengaja meyakinkan teman-temanku dengan logat ngapak yang selalu ku lestarikan. Seolah mereka terhipnotis oleh sugesti yang ku berikan. Hingga akhirnya kami memperdebatkan siapa yang akan naik terlebih dahulu ke bak pick-up tersebut.
Konyol. Bagaimana mungkin kami berlima akan duduk beriringan bersama dan nampak seperti rombongan yang akan mendatangi hajatan di suatu tempat. Aku malu ! Teman-temanku mendadak seperti kepiting rebus yang siap santap, menahan malu juga pastinya. Apalagi saat itu kami masih berseragam identitas SMANSA. Apa reaksi orang yang akan melihat kami yang macam karapan kambing ini ? Mau di taruh mana muka-muka imut kami ini ? Apapun yang terjadi kami harus mau. Orang disekeliling kami sempat tertawa bahagia melihat penderitaan ini. Berpasang-pasang mata melihat aksi heboh kami yang sedang duduk di bak pick-up ini. Dengan fasilitas AC super alami sumilir dan view alam yang terjangkau kami menikmati ini semua. Melawati alun-alun, melewati keramaian Kebumen.
Walaupun di luar sana kami nampak seperti badut hiburan. Kami menikmati ini dengan suka cita, melebihi euphoria saat bantara yang kebetulan kasusnya sama, yaitu sama-sama berada di bak kendaraan, namun ini berbeda, kali ini kami duduk bersama-sama di mobil pick-up.
Pengalaman pertamaku dan mungkin akan menjadi yang pertama dan terakhir. Entah akan mengulanginya lagi atau tidak. “Jika tua nanti kita tlah hidup masing-masing, ingatlah hari ini.” Aku mencoba menghibur teman-temanku yang tampak frustasi menahan malu dengan suaraku yang merdu ini, merusak dunia. Hari itu, Aku, Tiwi, Dinda, Ela, dan Ninda berhasil menorehkan sejarah baru. Kami 5 pelajar beruntung yang berhasil mendapatkan kesempatan untuk duduk di bak pick-up. Terima kasih kepada pihak X yang telah berkenan memberikan fasilitas transportasi super mewah.

***

Hahaha.
Kalo aku liat gak cuma nyengir kok.
Bakal sakit perut aku nih :D

            Aku tersenyum.

Itu jadi pengalaman yang paling seru,
menahan malu dari Kebumen-Gombong.
Haha. Semoga nggak sia-sia deh.

            Sepertinya dia terhibur dengan perbincangan ini.

Iya. Apapun hasilnya besok. :)

***

Eh aku duluan ya ?
Mau berfantasi dulu.
 :)

            28 April 2011, malam itu aku dan dia saling bertukar cerita. Dia mengajarkanku akan banyak hal. Padahal niatku berbagi hanya untuk menghiburnya semata, yang kebetulan sms pertamanya hanya sebuah emoticon sedih. Terkadang jalan yang ditempuh untuk mencapai sebuah tujuan tidak selamanya mulus, pastilah suatu saat nanti bertemu tikungan, perempatan, bahkan simpang lima seperti saat aku dan teman-temanku melewatinya memakai pick-up malam itu. Setiap perjuangan yang dilakukan pasti membuahkan hasil, apapun itu walaupun hanya secuil pengalaman, tapi berharga.
-KKFHP-

Rabu, 16 Mei 2012

Fatty

    Ini salah satu quote penarik daya konsumsi masyarakat
yang sedikit berbau diskriminasi.
 
    Kenapa? Hal ini menimbulkan asumsi baru, jelas disitu tercetak 'kita harus seh(at), untuk bisa menikma(ti)', tapi faktanya, kata orang yang tidak kurus 'kita harus kurus, untuk bisa menikmati', dan kata orang yang kurus 'kita harus (sedikit) gemuk, untuk bisa menikmati'. Padahal menikmati hidup itu semacam menikmati badan, jadi takarannya tergantung sudut pandang masing-masing. Big is beautiful, bony isn't ugly. Ini badan kita yang nikmatin, kenapa perlu komentar orang lain?
   Oke. Spesies ababil galau bisa jadi makin merajalela, termasuk rumor 'kerempeng mana keren' juga turut andil. Menurut kacamata gue, nggak sedikit dari mereka yang bermasalah dengan pelebaran pantat yang tak terduga, akibatnya tubuh tumbuh ke samping. Hal ini menjadi faktor utama para pedagang awet muda, meledaknya omset penjualan produk penurun berat badan juga korset mengucurkan rupiah bagi mereka. Sebagai ababil yang (mencoba) uptodate, gue turut partisipasi dalam masalah ini. Diet! Istilah keren ini kerap terdengar ketika seseorang menawarkan selembar mendoan dan kemudian, "sorry, gue diet!".
       Yang pertama hindari lemak juga kurangi karbo, kata temen gue. Tawaran bakso cuma-cuma gue tolak mentah-mentah dengan alasan udah kenyang, padahal karena nggak ada uang juga takut nggak bisa bayar angkot dan diturunin di tengah jalan, hina sekali. Seenggaknya alasan 'udah kenyang' udah bikin gue tetep keren di depan temen-temen.
     Kedua, kurangi gula dalam minuman. Cerdasnya harus sering minum air mineral bukan air putih (susu). Ini alasan kenapa gue nggak pernah beli es-es'an waktu ngantin dan sering minta air mineral gratis, penghematan devisa.
        3. Makan 3x sehari, jangan kurangi frekuensi! 4. Makan terakhir 3jam sebelum tidur. 5. Olahraga (lari, senam, sit up, push up) 6. Kurangi gorengan, ganti dengan rebus. 7. Latihan pagi. 8. Jalan kaki! 9. Jangan stres, nikmati hidup! 10. Istirahat cukup.
       Dari 10 itu, 9 : 1 yang sering gue langgar. Mendoan masih di list teratas di menu ngantin kloter 1 (pukul 10.00). Kemana-mana masih nggandeng viar (baca; motor). Latihan pagi? Ternyata gue masih kalah saing sama ayam kate tetangga waktu bangun. Kalo masalah 'jangan stres, nikmati hidup!', gara-gara ini otak gue overheat dan bau karbit mau meledak akibatnya terjadi stres yang mengakar berhari-hari. Obat stres turun-temurun yang mujarab yaitu makan, karena stres yang mengakar berhari-hari, proses pengobatan dengan cara makan ngemil otomatis berhari-hari juga. Dan dengan begitu program diet dinyatakan, mu-ba-dzir.
      Sebenernya inti dari posting anti klimaks ini seenggaknya, gue pernah kurus (baca; kurang gizi). Itu dulu, beberapa tahun yang lalu tanpa bukti otentik. Believe it or not?! Kalian cukup pilih 'or'. Dan yang perlu dicatet format font italic + bold, orang disebut kurus (baca; hemat lemak) juga karena ada orang yang disebut tidak kurus. Jadi, ketiup angin dan makan tempat kenapa jadi masalah juga? Syukuri apa yang ada, hidup adalah anugerah :)

thumbs up

Selasa, 13 Maret 2012

inside'shobo

 Pembakaran kulit secara instan oleh 14 personel. Minggu kemarin, 2 hari sebelum masa pembagian sedekah soal-soal dari sekolah, kelas gue kebetulan ngadain rapat terakhir sebelum UTS sekaligus cek TKP dalam rangka shooting film/videoclip pagelaran. Waktu itu ada 14 personel termasuk gue yang partisipasi jungkir balik di TKP. Pantai Boponxxx (baca; bopong) jadi tujuan utama team kita. Karena kita cinta Indonesia, waktu janjian yang semula kumpul jam 9 pagi, tanpa dosa kita karetkan/ngaret selama 30 menit lebih, dan lebihnya banyak. Belum lagi tambahan waktu karet demi nunggu Bernad Karanggayam yang telat absen. Belum lagi waktu kita untuk menghabiskan 1 cup es toeng-toeng dengan varian rasa manis kombinasi asin yang belum jelas asin garam atau asin keringat tukang es toeng-toeng.

Ini sedikit banyak gambar yang kita abadikan waktu itu. Banyaknya sementara belum layak dan terlalu vulgar untuk khalayak umum.

Satu personel tertinggal dan kita diharuskan nunggu Bernad kurang lebih 30 menit.


Di TKP dan bingung dan luntang-lantung.


Gambaran sementara object sebagai latar shooting nantinya. Sementara, ya, sementara, dan bisa lebih ... tragis.

Budhe Nunu (ketua) selaku pemegang tahta tertinggi dalam project kali ini memimpin rapat, muehehehehe.


Rapat outdoor, kita debat tentang 3 konsep yang masih siur simpang kepastiannya. Konsep awal dari Mba Senpai, ke-2 dari Ahmad Nursani a.k.a Anak Muda Gaul Gila. Dan ke-3 dari aliran sakaunisme, Arif Rosyidin.

Ahmad Nursani. Anak muda gaul gila. 16 tahun. Asus = his girlfriend.


Dari kiri ke kanan. Majikan, asisten majikan, dan kuli yang banyak kucing di lengannya.
Ha. Ha. Ha.


No comment.

Bukan gambar sebenarnya. Bukan hasil dari rekayasa :P


Captured by: Arif Rosyidin.

Gara-gara alas kaki (baca; swallow) yang putus tanpa undangan, dan nggak ada sewaan dari temen, alhasil gue bernyeker ria sepanjang pantai.


Sembahyang~


Manusia keren. Budhe Nunu Si Penimba Tanpa Tanda Jasa.


Semacam hantu bungkus/candyjump, sengaja beberapa wajah mengalami penyamaran identitas karena kondisinya yang tidak layak dan tidak sedap pandang :P


Sukses melakukan pembakaran instan. 14 personel balik ke kediaman masing-masing dengan damai.

To be continued ...

Selasa, 17 Januari 2012

Tidur Tidak Sama dengan Tewas

17 Januari 2012,
mungkin kalo hari ini ada piala nominasi 'pelajar terbego dan pecinta kasur sejati'
bakal jatuh ke tangan gue.

16 Januari 2012, rutinitas monoton seperti biasa, bel akhir pelajaran di Majlis (baca; sekolah) berdentum sedikit lebih awal dari biasanya, jadwal pulang dari Majlis dan jadwal perndopokan antar sesama pelajar Majlis otomatis maju menjadi lebih awal pula. Dan ini sebuah anugerah terindah selama masih menjadi anggota resmi Majlis yang berada tidak jauh dari pusat kota, pusat persewaan odong-odong dan wahana paud lainnya, pulang awal dan bercengkrama dengan kasur lebih awal.
Kebetulan viar (baca; motor) klewus dan topi keledai (baca; helm) setia nemenin gue di hari anugerah itu, 16 Januari 2012, dengan begitu gue nggak perlu matung dan luntang-lantung di pinggir jalan nunggu angkutan umum yang belum pasti kejelasan juga kelayakannya, angkutan mewah, atau angkutan aroma gesek pantai selatan. Yang jelas hari itu gue absen dari Modista, Bintang, Dua Dara, dan terbebas jebakan maut dari angkutan yang fisiknya menipu, tampak berkilau dari luar, tapi ladang gesek pantai dalamnya.
Kurang dari 25 menit jarak kamar dari gerbang Majlis tempat gue belajar bareng guru-guru terkasihi. Begitu sampe rumah, mata ini menjadi 3x lebih fokus ke kamar yang dari kejauhan berkilau dan disitu tersedia fasilitas seperangkat kasur empuk + bantal guling yang menggoda. Langsung gue rebahin badan dan update lewat stupid phone tentang suasana hati siang itu. Rencana tidur siang berkelanjutan jadi tidur sore dan jadi tidur setengah sore-malam, jam 7 malem gue bangun, sengaja gue siapin kapasitas mata 15 watt lebih kuat dari biasanya buat begadang malemnya. Kebetulan nyokap ada urusan pereibu-ibuan jadi harus pergi dan gue ditinggal kurang lebih 2 hari. Sendiri.
Takut. Tempat tinggal gue ada di gang yang begitu keluar rumah bisa liat pemakaman yang terbentang luas di depan jidat. Iya, gue sendiri, kebetulan hujan, dan kelaparan yang mendewa bujana. Masalah pocong/hantu bungkus/candy jump atau kuntilanak/hantu kutilan yang gendong anak sebenernya bukan alasan primer kenapa gue takut. Justru gue takut karena penyandang predikat 'pecinta kasur sejati' masih dipegang gue. Apalagi malem itu hujan turun dengan manjanya, dan ini memperkuat kemungkinan gue bangun siang sepersekian persen. Gue susah merem. Ternyata godaan bantal masih kalah saing. Begadang-Rhoma Irama.
Semua usaha. Stupid phone sengaja gue setting anti kalem, volume maksimal soalnya gue sadar punya masalah terkronis yang mengakar ke otak dan susah buat diilangin, gue khawatir penyakit kronis ini mendarah daging dan jatuh diketurunan selanjutnya, susah bangun, semacam orang tewas ketika terlelap. Bahaya.
Mungkin Dewi Fortuna sedang berkencan dengan Dewa Bujana. Keberuntungan meleset jauh. GUE KESIANGAN. 10.03!!!!!!!!! Oh *scream
Masih setengah jiwa, sebagian absen ke dunia, dan kesadaran gue yang sebagian masih di alam fana. Sambil kucek mata, sambil ngibasin poni, sambil senam otot (re; ngulet) gue melirik ke jam dinding butut yang baru sehari jatuh dan menimbulkan kerusakan fatal, kaca pecah tambahan jarum-jarumnya keriting, tapi masih setia gue pajang walaupun penunjuk waktunya sedikit rancu akibat jarum yang keriting-keriting. Reflek. Gue bangun dan terjun dari kasur langsung berdiri. Ibarat gerakan tersengat aliran listrik. Kaget dan tegang. Antara bingung, takut, dan bingung kemudian takut lagi. Gue kibasin poni lagi. Dan ini nyata gue kesiangan.
Gue ambil seribu langkah atau langkah seribu, gue kurang paham. Yang jelas bingung ini meningkat begitu liat stupid phone. 15 pesan masuk. 9 panggilan tak terjawab. Itu semua dari nyokap, bokap, dan pelajar satu Majlis gue. Galau.

Banyak options yang muncul di ubun-ubun.
  • Antara gue langsung berangkat ke Majlis dan bawa seragam terus mandi cuci kakus di kamar mandi Majlis itu juga,
  • atau gue siap-siap berangkat dan begitu sampe gue pura-pura mati di depan BK dengan begitu gue bisa dilarikan cepat siaga ke UKS dan otomatis gue bebas dari pertanyaan-pertanyaan eksekusi maut,
  • atau yang terakhir gue pura-pura amnesia kemudian tidur dan kembali bercengkrama dengan kasur berkilau.
Galau kembali.
Mencoba santai. Dan sambil putar otak, membuat alasan sedang apa dan dimana. Alhasil gue buat alasan semu, pura-pura mendadak sakit kepala sebelah atau mimisan dan berdarah-darah? Gue pilih (pura-pura) sakit karena lebih rasional dan alasannya sedikit elite. 
Tentang hari ini yang gagal ulangan akuntansi. Presentasi mapel dari guru Sunda. Dan gagal. Tapi, gue masih unggul, piala nominasi 'pelajar terbego dan pecinta kasur sejati' masih jatuh di tangan gue. Sukses menggantikan tugas asisten nyokap hari ini.
☑ Nyapu  ☑ Ngepel  ☑ Cuci-cuci  ☑ Jemur-jemur

Minggu, 15 Januari 2012

Resiko Memiliki Nama Panjangggggg

Mau bongkar sesuatu.
Bukan sesuatu, tapi identitas. Identitas (?)


     Menurut gue ini penting karena menyangkut identitas gue yang selama ini (masih) absurd buat sebagian orang. Kecuali buat mereka yang tau kronologi hidup gue dan yang udah tau kalo gue berasa udik banget gara-gara sesuatu ini. Gue mengidap sesuatu ini kurang lebih 17 tahun. Selama 17 tahun itu juga gue merasa dicekek, digantung, dikencang, dengan banyaknya pertanyaan dari orang-orang. Dan semua pertanyaan itu masih seputar topik yang sama, intinya sama! Sekali lagi, intinya sama! Jibles.

     Di awal tahun gue hidup dan 3 tahun pertama di hidup gue (semua masih) normal. Gue lahir normal, dengan perkasa dan sok kuat nyokap gue melakukan persalinan setengah medis. Iya, setengah medis, lebih tepatnya gue keluar disaat bidannya lagi nyiapin perkakas keramatnya. Gue keluar dengan bahagia pukul 22.00 WIB di menit yang ke-30 dan gue melakukan ekskresi yang pertama dan eksklusif 5 jam setelah tangisan berhenti. Ini keluar dari topik.

scared     3 tahun pertama gue hidup (semua masih) normal. Gue masih ngedot gembira, tapi kesalahan ada di berat badan gue. Semakin lama menyusut dan gue nggak bakalan terima kalo vonis busung lapar jatuh di tangan. Na'udzubillah *garuk tanah pake pantat.

     Mulai saat itu juga gue komplikasi, sakit. Kurang lebih 2,5 tahun ngobat. 2 minggu sekali antri berobat mirip antri sembako/BLT, 4 jam ngantre ketemu dokter kurang dari 10 menit, nyesek. Mungkin gara-gara sering nonton serial drama Indosiar. Serial drama elang terbang terabsurd menurut gue. Banyak orang yang bilang kalo gue sakit ada hubungannya sama yang gaib (?) Di jaman milenium sekarang ini? Tapi mungkin ada nilai kebenarannya juga. Gue sakit selang beberapa lama setelah nyokap face to face sama 'kuntilanak'. Hantu kuntilanak atau hantu kutilan yang punya anak. Entah, gue kurang paham.

Lain makhluk lain argumen. Ada yang bilang kalo gue keberatan nama? Jowone; cah cilik kaboten jeneng.
Setelah putar otak ternyata ada benernya (juga).
5 kata tapi satu nama. 35 huruf + spasi.
Cukup berat buat sekali hafalan.

Ini penampakan bed nama seragam. Disingkat sedemikian rupa tapi masih panjang.

     Oke, gue keberatan nama. Ini memungkinkan permutilasian nama akan segera digencarkan. Nama gue bakal dimutilasi, diambil tengahnya, bisa jadi cuma 'Hadi Putri' atau mungkin cuma 'Hadi' dan sekaligus gue bakalan ganti gender kalo sampe nama gue cuma sepenggal yang mirip-mirip nama jantan, 'Hadi'.
     
     Setelah rapat keluarga, rapat akbar, dengan berbagai perdebatan pasal identitas gue. Gue positive ganti nama. Alhasil nama kecil gue yang semula 'Puput' ganti jadi 'Mila'. Gue ganti nama.

     Ternyata ganti nama, ganti identitas (tanpa ganti gender). Nggak segampang garuk tanah pake pantat <--- abaikan. Ini semakin gue rasain setiap ganti jenjang pendidikan, dari SD ke SMP, juga SMP ke SMA. Setiap moment itu mengharuskan gue show on depan temen-temen baru gue. Perkenalan. Dan gue benci itu.

     Apalagi waktu gue jabarin siapa gue. Apa nama panjang gue dan apa panggilannya. Gue gemeteran. Dengan lingkungan yang baru otomatis gue harus adaptasi dan meminimalkan gerak-gerik/sikap yang bakalan jadi bumerang buat gue. Gue nggak mau kesan mereka (temen-temen gue) ilfeel waktu pertama kali liat gue.

     Sekarang giliran gue perkenalan. "Nomor urut 17 silahkan..."

    Banyak options dipikiran gue, gue mau pura-pura jatuh elegan dari kursi dan dengan benjolan fatal di jidat dengan begitu akan memudahkan untuk ngacir ke UKS, atau gue pura-pura sibuk ngitung ubin kelas. Absurd. Daripada gue dicap 'cupu' akhirnya gue pasang muka sekedarnya. Perkenalan.

"Nama saya *bla bla bla*, Umur saya *bla bla bla*, Saya dari *bla bla bla*" Temen-temen gue antusias. "Dan saya biasa dipanggil 'Mila'" *jeder. Alhasil gue berhasil memecahkan konsentrasi semua makhluk seisi kelas. Mereka tanya dengan topik yang sama.
"Kok nama panggilannya nggak ada di nama asli?"
"Bisanya dipanggil Mila?"
erkk"Siapa yang ngasih nama? Bapak kamu?"
"Bapak kamu...Bapak kamu...?"
geram     Gue diem. Gue natap mantap mereka satu-satu, gue hafalin muka siapa-siapa aja yang ketawa. Bakalan gue pojokin di gang sempit belakang sekolah, yang cowok gue cabutin bulu idungnya, yang cewek gue cabutin poninya satu-satu. Buat ngrespon pertanyaan mereka, gue kasih senyuman palsu harap-harap cemas semoga pertanyaan yang sama nggak keulang lagi. Semoga. Balik ke singgasana, dan kemudian duduk elegan. Semua baik-baik saja. 

    Tragedi ini terus dan terus keulang di minggu pertama di SMA. Memaksa gue harus bolak dari singgasana, perkenalan, dan kemudian balik lagi dengan senyuman harap-harap cemas. Ternyata ini belum cukup, penderitaan gue belum berakhir. Gara-gara nama keramat, gue kerepotan masalah registrasi, karena nggak semua orang bisa melafalkan dan nulis nama gue dengan benar. Belum lagi gimana cara masukin nama dengan ketentuan yang wajar di LJK, ini harus disingkat, lama, dan harus buletin LJK bukan dicoblos/contreng. Sempet kepikiran pengin nulis inisial nama gue, tapi huwallohuahlam. Masalah ijazah juga. Masalah mesen bed nama, gue khawatir cuma nama jantan gue yang dijahit. Dan yang masih hangat, nama gue salah cetak di SIM. Naas.

     Suka dukanya punya nama keramat. Dan mungkin lebih banyak dukanya. Gue sempet mikir kenapa orang tua gue bisa ngasih warisan nama sedemikian hebatnya? Kenapa nggak sesimple nama-nama orang dulu yang acap kali berawalan 'SU'. Mungkin kalo misalnya nama gue dapet embel-embel 'SU' alhasil jadilah SUMILA, 'SU' berarti keindahan/kebaikan, dengan begitu SUMILA = Mila yang indah. Perumusan nama yang elegan.

ehem
Namaku = Berat (?)   







Kamis, 01 Desember 2011

Sejak Biru disebut Hijau

Senja kala itu~

     Seperti biasanya aktivitas galau yang sering dilakukan remaja ya itu-itu saja. Telentang sambil menatap langit-langit kamar memikirkan apa yang seharusnya tidak dipikirkan (re: mantan pacar, cinta diujung tanduk, cinta bertepuk sebelah tangan, gebetan diembat orang, minder faktor ketampanan/kecantikan). Aku berusaha berlaku sebagai remaja sehat pada umumnya, oleh karena itu galaupun menjadi menu santapan sehari-hari. Menatap layar gadget → Berharap getar → 1 kotak masuk diterima → XL Info → Buang dan kubur gadget dalam-dalam. Sore itu aku habiskan waktu untuk bergalau ria. Ditemani dengan playlist yang memutar Someone Like You-Adele memantapkan aksi galauku saat itu, alhasil predikat remaja sehat wajib galau sudah ku gandrungi.

     Volume max dengan setting bass yang setara mengkombinasikan genre hip hop pada playlist selanjutnya. Tapi nampaknya suara gaduh dari headset cantikku ini masih bisa tersaingi oleh alunan teriakan dari Ibuku. Vibra suaranya yang melengking mampu menembus tebalnya dinding busa headsetku, sungguh kemampuan suara yang tiada tara. 

Mama  : "Ndukkkkkkkk!?" *kaca bergetar*
Aku      : "Ya Ma?" *menoleh santai*
Mama  : "Tolong ambilken kerudung Ijo, buruan!" *nada garang*

Ini yang nyesek. Menyuruh dengan nada garang dan melengking. Demi apa coba? Salah apa coba? Sebagai anak yang (berusaha) baik dan gemar menabung, aku iyakan saja seruan Ibuku.

Aku      : "Ini?!"
Mama  : "Yang Ijooooooooo ijo, yang ijo itu!" 

Oh mungkin aku yang tledor, ini hijau muda, oh mungkin beda dengan hijau yang satunya. Segera kerudung hijau tua aku sibakkan ke muka (re: hadapan) Ibu.
thinking

Aku       : "Nyahhhhhh, ini kan?!"
Mama  : "Deneng diprentah rak dong nemen nduk?! (baca: kok disuruh nggak mudeng 
               banget?)
Aku       : "Apa coba? Muda salah tua ya rak beda. Ini yang warna ijo Ma."

Sejak kapan penglihatanku kacau begini. Ini hijau dan ini yang muda sedangkan ini tua. Atau mungkin. Aku rabunisme? Entahlah. 

Mama  : *datang sambil menyodorkan kerudung impiannya* "Iki nduk kerudung Ijo~"
Aku      : "Lah si? Itu mah biru, ini ijooooooo."
Mama  : *Ah koe ki ngawur, nang ngendi2 iki sing ijo, sing dimaksud Mama ya ijo sing iki~" 
               *menyodorkan kerudung biru*
Aku       : *melakukan gencatan (re: pembelaan argumen)* "Kui biru Ma, biruuuuuuuuu."
Aku       : "Lah nek yang dipake Mama kerudung ijo, nah sing iki kerudung warna apa Ma?"
               *menyodorkan kerudung hijau muda dan tua*
throw up
Mama : &*&*(^)&%$%#%$@?!!!

Sederhana, dan fatalnya jika hal ini terjadi ditempat umum akan menjadi bumerang diri sendiri.

Faktanya Ibu saya lebih suka menyebut warna hijau, padahal biru. Soklat, yang benar coklat. Jambon, seharusnya pink ╮(╯_╰)╭

Dan ini mungkin akan selalu terjadi.
Kebiasaan pelafalan kata, frasa, dan kalimat yang (mungkin) salah.
Fatal-fatal akibatnya jika menjadi macam ini : Pak Pulisi yang berbaju soklat itu membawa pistul.

Dan ini tambahan lagi kasus-kasus yang sering terjadi di kehidupan manusia pada umumnya.

Numpak motor honda yamaha. Yang bener honda atau yamaha? Atau motor = honda? Jadi honda yamaha = motor yamaha?

Tumbas sarimi sedaap. Yang dimaksud sarimi dan mie sedaap? Atau mie merek mie sedaap? Atau hanya sarimi?

 Apa kata dunia?
damn

Belum lagi kasus-kasus selanjutnya. Yang masih perlu dipertanyakan kebenaran dan kelayakannya.